Pulau Sabang Aceh

24 Jam Di Sabang, Ngapain Aja?

Tidak asyik memang, bila ke sebuah pulau kecil di paling ujung barat Indonesia hanya seharian. Apalagi, pulau ini terkenal dengan keindahan lautnya yang luar biasa. Akan tetapi, yang namanya kesempatan, tentu tidak akan datang dua kali, bukan? Sering saya temui beberapa kolega yang berkunjung ke Banda Aceh, dengan jadwal yang padat. Karena biasanya mereka ke Banda Aceh pasti dalam rangka tugas.

Terkadang, waktu yang hanya tersisa 24 jam sebelum pesawat kembali berangkat di kemudian hari hanya akan membuat bingung hati. Bagaimana tidak, tinggal menyeberang selamat 45 menit dengan kapal Cepat. Sudah sampailah kita ke pulau yang fenomenal tersebut. Terus? Apa cukup mengelilingi Pulau weh seharian? Tentu saja tidak.

Tapi, tenang, bukan berarti anda tidak bisa menikmati Sabang dengan maksimal. Bulan lalu, saya mencoba menjelajah sabang dalam waktu 24 jam saja. Pergi siang, pulang siang. Berikut adalah tips yang bisa menjadi alternative bagi yang kepepet di Banda Aceh tapi harus tetap ke Sabang;

Pelabuhan Ulee Lheue

Kapal Cepat ekspress bahari di Pelabuhan Ulee Lheue

  1. Ambil kapal penyeberangan pagi

Yups, saya biasanya selalu mengambil kapal Pagi bila hendak ke Sabang. Selain kapal tidak terlalu penuh sesak, pun penyebrangan kala pagi sering terbilang aman karena cuaca yang bersahabat. Lalu, keuntungan lain menggunakan penyebarangan pagi, anda akan sampai ke kota sabang menjelang siang.

 Bisa di pastikan bila anda menggunakan kapal Lambat yang menghabiskan waktu sekitar 2 jam 40 menit, anda akan sampai di sabang menjelang siang. Dan, perut anda pasti akan bernyanyi. Nah, dari pelabuhan langsung saja ke kota sabang. Kota sabang, kala siang di jamin sepi. Jadi, anda akan dengan nyaman mencari rumah makan untuk bersantap siang. Pun, bila ingin membeli souvenir, belilah kala siang hari karena pengunjung tidak terlalu ramai. Ada beberapa toko penyedia souvenir yang buka kok. Jadi, berbelanjalah dengan aman, nyaman, dan tenang.

Pulau Sabang

Ini tempat tidur favorite saya klo ke sabang

    2.  Segera pilih penginapan Di kota Sabang

Bila anda merasa lelah, mengapa tidak langsung mencari penginapan? Saya sendiri, cenderung memilih penginapan di tengah kota. Berisik? Tenang, sabang jauh dari kata berisik, dan macet. Jadi, di manapun anda menginap, di jamin akan sunyi, sunyi, dan sunyi.

 Ada beberapa alasan saya memilih penginapan di tengah kota. Diantaranya, saya akan mudah mengakses makan malam yang murah, dan variatif karena di tengah kota tersedia Taman Kuliner yang berada di sisi pantai Kasih kota Sabang.

 Bosan dengan kota? Sabang masih punya ratusan penginapan lainnya yang bisa anda pilih sesuai selera. Mulai dari harga 100ribu permalam, sampai yang 2,8 juta semalam. Mulai dari yang ditengah perumahan penduduk, sampai yang langsung berhadapan dengan laut pun tersedia.

 Jadi, bila anda tidak ingin menginap di kota Karena ingin menikmati keindahan dalam laut sabang, silahkan pilih penginapan yang tersedia di Pantai Iboih dan pantai Gapang.

Pulau Sabang

Nungguin sate datang, sambil di temanin sunset kayak gini? hmm

  1. Santai Sore di Pantai

Selepas leyeh-leyeh di penginapan,  badan yang kembali bugar akan membuat anda kembali bersemangat untuk mulai menjelajah sabang yang sebenarnya.

Bila anda berada di tengah kota, tidak perlu pusing mencari tempat nongkrong yang bisa membuat otak yang penat kembali relaks. Sabang itu, laut dan pantainya banyak banget. Bahkan di tengah kota pun, ada pantainya. Pantai kasih namanya. Sembari menunggu senja, duduklah di pinggir pantainya. Nikmatilah sajian penganan sore dan segelas jus hangat.

Sinar mentari senja akan menambah syahdu suasana sore anda. Apalagi, kalau ada kekasih di samping. Ungkapkanlah kata manis di telinganya. Di jamin! Dia akan percaya, kalau anda begitu mencintainya #iyakalee

Kuliner Pulau Sabang

here we go, sate gurita, nasi goreng dan jeruk hangat

  1. Menikmati Gurihnya sate Gurita

 Malam menjelang, Kota kembali hidup sedari sore datang. Seolah terbangun dari tidur siangnya yang nyenyak. Kini, saatnya kita berburu makanan khas kota sabang!

Bayangkan sejenak. Tariklah nafas sesaat, hembuskanlah kembali. Ada debur ombak  malam yang mengalun lembut. Tidak jauh, hanya selemparan batu dari tempat anda duduk. Ada temaran lampu yang menemani. Pun, di seberang sana, ada lampu-lampu perumahan nelayan yang berkelap-kelip. Seperti menari untuk menemani santap malam anda hari itu.

Renyahnya kacang yang berbalut dengan rempah khas Aceh. Di padu dengan lembutnya daging gurit yang di potong dadu lalu di panggang di atas bara. Hangat! Lembut! Gurih! Sebuah perpaduan yang sempurna menghabiskan malam di sebuah pulau kecil yang memiliki sejarah panjang.

 Malam yang luar biasa, bukan?

Pulau Sabang

salah satu view dari bunker jepang yang terletak di Desa Anoi itam

  1. Menjelajah Bunker Jepang

Pagi, setelah sarapan di hotel ataupun di penginapan. Saran saya, ambilah tas anda. Lalu check outlah sekarang juga! Karena petualangan lain tak bisa menunggu!

 Bila anda yang memilih tidur di seputaran iboih dan gapang, rute pertama yang harus anda ambil sebagai tujuan pertama adalah Tugu Nol Kilometer Indonesia. Tempat, dimana Indonesia ini bermula. Lalu, bergegaslah sesegara mungkin kembali ke kota Sabang untuk menikmati pemandangan lain dari pulau Weh ini.

 Tapi, karena saya waktu itu tidur di penginapan seputaran kota, saya memulainya dengan mengunjungi Bunker jepang. Sebuah peninggalan sejarah perang dunia II yang terletak di desa Anoi Itam. Eits, tunggu dulu, anda pikir  kalau ini akan membosankan? Tunggu sampai anda naik ke puncak bunker, lalu lihatlah pemandangan laut di depannya. Amazing!

Danau Aneuk Laot Sabang

santai siang di danau Aneuk Laot

  1. Santai siang di Danau

Puas? Jangan puas dulu. Kita masih punya satu lagi destinasi. Toh, perut mulai lapar kan? Kapal juga akan berangkat tak lama lagi. Biasanya, kapal yang jadwal siang itu berangkatnya sekitar pukul 14.00 wib. Baik kapal lambat ataupun kapal cepat. Jadi, jam makan siang telah tiba! Hore…

 Makan dimana? Pelabuhan? Ah biasa. Bagaimana kalau kita makan siang sembari melepas pandangan ke hamparan permadani yang berwarna hijau kebiru-biruan. Angin yang sejuk. Di temani dengan riuh rendah nyanyian burung-burung hutan. Mau?

Mampirlah ke Danau Aneuk Laot ( Danau anak laut). Letaknya yang tidak jauh dari pelabuhan, akan membuat anda tetap dapat mengejar kapal yang akan kembali berangkat ke Banda Aceh. Sehingga, anda tidak akan tertinggal kapal yang berangkat untuk terakhir kalinya.

Jadi, sekarang, tidak ada lagi alasan anda tidak ke Sabang, bukan?



About

Saya, bapak beranak dua, menyukai jalan-jalan. Blogger ecek-ecek. Penulis Ecek-ecek tapi Mencintai Keluarga dengan Serius. Bisa di "booking" dr Blog ; www.hikayatbanda.com atau Email : yudi.randa@gmail.com atau dari @yudiranda untuk twitter.


'24 Jam Di Sabang, Ngapain Aja?' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool