Aceh Menuju Wisata Halal Dunia

Saat mendengar Aceh berhasil meraih tiga kemenangan dalam Kompetisi Pariwisata Halal Nasional (KPHN) 2016 akhir September lalu, saya girangnya minta ampun. Setidaknya, kemenangan ini menjadi bukti jika Aceh mampu berbicara dan bersaing dalam dunia wisata. Tidak kalah jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Ada tiga kategori yang berhasil diraih Aceh dalam kompetisi yang digelar Kementerian Pariwisata RI ini, yaitu Aceh sebagai Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik, Bandara SIM sebagai Bandara Ramah Wisatawan Muslim Terbaik, dan Masjid Raya Baiturrahman sebagai Daya Tarik Wisata Terbaik.

Kenapa kemenangan ini menjadi begitu penting? Kalau menurut saya, mengelola pariwisata adalah cara mudah untuk mengubah image sekaligus menarik masyarakat untuk datang berkunjung ke Aceh. Harus diakui, sebagian orang masih memandang Aceh sebagai daerah yang mengerikan dan mencekam. Minimnya informasi serta pemberitaan yang melulu hal miring, sedikit banyak menumbuhkan penilaian yang salah tentang Aceh di benak masyarakat umum.

“Setiap kali googling Aceh di internet pasti akan muncul foto peperangan atau musibah tsunami. Masih sedikit keindahan alam Aceh terpublish di dunia maya. Dan ini yang harus kita ubah,” ujar pak Reza Fahlevi­−Kepala Dinas Pariwisata Aceh−saat saya mengikuti pembekalan wisata halal bagi penggiat media sosial awal September lalu.

Masjid Raya Baiturrahman sebagai Daya Tarik Wisata Terbaik dalam KPHN 2016

Masjid Raya Baiturrahman sebagai Daya Tarik Wisata Terbaik dalam KPHN 2016

Jadi, keberhasilan kemenangan ini seakan sikron dengan semangat para pegiat media sosial di Aceh yang hingga kini begitu aktif mengabarkan keindahan Aceh baik budaya, masyarakat, kuliner, hingga alamnya. Terlebih lagi, kemenangan Aceh di KPHN 2016 menghantarkan provinsi ini mewakili Indonesia sebagai World’s Best Halal Cultural Destination pada World Halal Tourism Awards (WHTA) 2016 di Abu Dhabi (UEA) yang akan mulai voting pada 17 Oktober-25 November 2016.

Dari literatur yang saya baca, wisata halal pertama kali diperkenalkan tahun 2015 dalam acara World Halal Tourism Summit (WHTS) di Abu Dhabi, UAE. Konsep ini memfasilitasi kebutuhan wisata umat muslim yang mengacu pada aturan hidup sesuai ajaran Islam. Beberapa kota muslim telah menerapkan pola ini seperti Arab Saudi, Turki, UEA, Malaysia, hingga Maldives. Bahkan, beberapa negara non muslim juga mulai melirik seperti Thailand, Jepang, dan beberapa negara Eropa. Sebab dimata mereka, konsep wisata halal menawarkan konsep hidup yang lebih healthy.

Beragam makanan khas Aceh yang menjadi daya tarik wisata halal

Beragam makanan khas Aceh yang menjadi daya tarik wisata halal

Sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam satu-satunya di Indonesia, tentu ini menjadi nilai lebih bagi Aceh. Dipastikan semua makanan di Aceh halal untuk dinikmati. Semua kebutuhan umat muslim mampu diorganisir. Sebab di kehidupan sehari-hari, semua kebutuhan ini telah terpenuhi. Jadi tidak perlu ragu atau takut. Terlebih lagi, kehidupan masyarakat Aceh masih menjunjung tinggi nilai agama dan adat ketimuran. Semisalnya, saya berulangkali mendengar cerita barang-barang wisatawan yang tertinggal di warung kopi, taksi, mobil carteran, restoran, ternyata masih dijaga dan diserahkan kembali kepada si pemilik. Ini saya ketahui dari berita dan juga beberapa status facebook wisatawan Malaysia yang berbagi pengalamannya saat berkunjung ke Banda Aceh. Pengalaman sama juga saya lihat langsung beberapa hari lalu. Di lobi salah satu hotel di Banda Aceh, tanpa sengaja saya melihat rombongan wisatawan Malaysia tiba dan langsung menuju kamar. Berselang menit kemudian, seorang sopir taksi yang mereka tumpangi tergopoh-gopoh menyusul lari ke lobi hotel menyerahkan handphone yang tertinggal di dalam mobil. Sekilas saya lihat, handphonenya lumayan. Edisi terbaru yang ditaksir berharga mahal. Wisatawan Malaysia kaget, berulangkali mengucapkan terima kasih.

Makam para alim ulama di seputaran kota Banda Aceh

Makam para alim ulama di seputaran kota Banda Aceh

Wujud lain kehidupan yang bernafaskan nilai agama juga tercermin dalam kultur budaya, salah satunya adalah kenduri. Kenduri bisa diartikan penyajian makanan bagi orang-orang sekitar. Ia serupa pesta. Namun, bedanya, makna yang terkandung dalam kenduri selalu bersinggungan dengan nilai- nilai Islam. Bagi masyarakat Aceh, kenduri bukan sekedar menyiapkan makanan lalu disantap bersama-sama. Tapi, kenduri lebih sebagai wujud syukur yang diniatkan sebagai sedekah. Maka tak heran, hampir rata-rata masyarakat Aceh senang menggelar kenduri. Bahkan, peringatan maulid Nabi bisa berlangsung hingga tiga bulan lamanya yang diisi dengan kenduri bagi masyarakat dan sanak saudara.

Pengalaman sama pernah saya alami saat bulan Ramadhan beberapa bulan lalu. Di tempat saya tinggal, di Aceh Besar, ketika menjelang akhir Ramadan selalu digelar kenduri tamat tadarus. Kenduri ini sebagai wujud syukur telah menyelesaikan bacaan tadarus Alquran yang sering digemakan di malam-malam Ramadhan. Dan jujur, melihat animo masyarakat yang terlibat dalam kenduri ini bikin saya kagum. Sejak pagi, hampir semua rumah memasak hidangan untuk disajikan. Tidak peduli latar belakang mereka berkecukupan atau tidak, tapi yang pasti semuanya ingin berpartisipasi. Semuanya ingin bersedekah. Hidangan itu lalu disantap saat berbuka yang dihadiri hampir seribu warga yang memadati meunasah (surau). Mereka ini berasal dari desa tempat saya tinggal dan beberapa desa tetangga.

Suasana kenduri tamat tadarus yang berlangsung di Desa Meunasah Tutong, Aceh Besar

Suasana kenduri tamat tadarus yang berlangsung di Desa Meunasah Tutong, Aceh Besar

Kultur budaya inilah yang membedakan Aceh dengan daerah-daerah lainnya. Kehidupan yang berpedoman dengan nilai agama, terwujud nyata dalam kehidupan sehari-hari. Maka sudah sepantasnya, wisata halal yang kini ditetapkan di Indonesia menasbihkan Aceh sebagai salah satu destinasinya. Sebab halal sudah tentu berasal dari Islam. Dan ajaran Islam tertanam erat dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Dan kini, yuk, sama-sama dukung Aceh sebagai World’s Best Halal Cultural Destination dalam ajang World Halal Tourism Summit (WHTS) di Abu Dhabi. Dukungan dan voting kita dibutuhkan untuk menjadikan Aceh sebagai destinasi wisata halal dunia, agar semangat rahmatan lil ‘alamin terus bergema bagi seluruh alam.

 



About

Hobi menulis. Tukang koleksi buku. Penulis serial "Teller Sampai Teler" (Elexmedia 2014). Follow twitter @ferhatmuchtar email; ferhattferhat@gmail.com Baca tulisan lainnya di www.ferhatt.com (kunjungi yaa)


'Aceh Menuju Wisata Halal Dunia' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool