Aceh Selatan: Sepotong Surga di Bumi Serambi Mekkah

Aceh Selatan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, dengan kota  Tapak Tuan sebagai ibukota Kabupaten. Dulu wilayah Aceh Selatan sangat luas sekali, dari Kecamatan Babah Rot (berbatasan dengan Aceh Barat waktu itu, sekarang terpisah dengan Aceh Selatan) hingga  ke Singkil dan Subulussalam (dekat dengan perbatasan Provinsi Sumatera Utara).

Wilayahnya memanjang di pantai barat hingga pantai selatan Aceh, dengan sebagian besar penduduk bermukim di wilayah pesisir. Ya, Aceh Selatan identik dengan wilayah pesisir, hingga tak mengherankan jika nelayan menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama di Kabupaten ini, selain pekerjaan sebagai pegawai pemerintah dan petani. Saking luasnya wilayah Aceh Selatan ini dulunya, sampai memerlukan waktu perjalanan yang lama (hampir setengah hari) jika bepergian dari kecamatan di ujung Selatan (Singkil) ke ujung utara (Blang Pidie dan sekitarnya). Melakukan perjalanan dari ujung ke ujung dalam satu kabupaten saja sudah seperti melakukan perjalanan ke provinsi lain.

Sampai kemudian pemekaran daerah terjadi di mana-mana. Setelah UU RI Nomor 4 Tahun 2002 dikeluarkan, Aceh Selatan pun dimekarkan menjadi tiga kabupaten, mengikuti beberapa kabupten lainnya di Provinsi Aceh yang telah terlebih dahulu mengalami pemekaran. Dua Kabupaten pemekaran dari Aceh Selatan bernama Kabupaten Aceh Barat Daya (disingkat menjadi Abdya) dan Aceh Singkil.

Sebenarnya, jika dibanding kabaputen lain, Aceh Selatan versi sebelum pemekaran tidak lebih luas dari Kabupaten Aceh Barat atau Kabupaten Aceh Tengah versi sebelum pemekaran juga. Hanya saja, wilayahnya memanjang di kawasan pantai Barat-Selatan Aceh dengan  kondisi alam yang berbukit-bukit, seperti yang terlihat pada peta berikut ini:

Peta Provinsi Aceh. Blang Pidie dan Singkil yang sudah berpisah dari Aceh Selatan dan menjadi Kabupaten sendiri

Peta Provinsi Aceh. Blang Pidie dan Singkil yang sudah berpisah dari Aceh Selatan dan menjadi Kabupaten sendiri. Foto: tkplb[dot]net

Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Aceh Selatan, waktu itu saya merasa sedikit sedih karena ‘tanah tumpah darah’ saya akhirnya ‘pecah’ menjadi tiga bagian. Apalagi ketika di masa remaja, saya sudah menjelajahi hampir seluruh wilayah di Aceh Selatan yang sangat luas tersebut, dari daerah pegunungan (bahkan pelosok) hingga pesisir. Sampai sekarang saya masih menganggap bahwa Abdya dan Singkil adalah Aceh Selatan 😀

Tetapi, mungkin pemekaran adalah jalan terbaik, bagi Singkil dan kecamatan-kecamatan di sekitarnya misalnya.  Dulu, bagi mereka yang tinggal di Singil atau Subulussalam dan berencana pergi ke ibukota kabupaten saja (Tapak Tuan), persiapannya seperti mau pergi ke ibukota provinsi karena jarak tempuh yang jauh.

Secara topografi, wilayah Aceh selatan terdiri dari pegunungan dan dataran rendah. Meski ada beberapa kampung yang letaknya di hulu (pegunungan), namun sebagian besar ibukota kecamatan dan pusat aktifitas masyarakat adalah di daerah pesisir atau di daerah dataran rendah. Jalan utama penghubung antara kecamatan di ujung utara dengan kecamatan ujung selatan adalah jalan nasional, satu-satunya jalan besar di daerah ini. Jika pelancong melintasi kawasan ini, mereka akan melewati semua ibukota atau kota-kota kecil kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan, tak ketinggalan pemandangan alam yang memanjakan mata. Pegunungan di satu sisi dengan laut di sisi lainnya atau sawah yang terhampar luas. Jadi, ada dua keuntungan melakukan perjalanan ke Aceh Selatan (termasuk Abdya); bisa melihat semua kota-kota kecil dan melihat pemandangan alam yang menawan.

Panorama alam di Aceh Selatan. Melihat rumah-rumah dan jalan yang menikungdi ujung kiri, saya menduga ini adalah desa Batu Itam, Tapak Tuan. Foto: Detik Travel

Ya, sejak dahulu Aceh Selatan memang terkenal akan pemandangan alamnya yang indah, bagaikan sepotong surga dihamparkan di bumi. Pantai-pantai di Aceh Selatan adalah pantai terbaik yang ada di bumi Serambi Mekkah. Sekian banyak pantai  telah saya datangi, pantai-pantai di Aceh Selatan adalah yang terbaik. Bukan karena saya orang asli Aceh Selatan maka saya menulis demikian. Tapi tanyalah kepada siapapun yang telah menjejaki kakinya di Aceh Selatan, pasti akan mengakui hal yang sama.

Gunung-gunung bersisian langsung dengan laut, dengan sebagian wilayahnya adalah pegunungan. Sehingga lintasan jalan nasional lebih banyak melintasi kawasan gunung. Sebut saja jalan dari atau ke Tapak Tuan, ibukota Aceh Selatan, dengan topografinya wilayahnya adalah gunung dan laut. Lainnya adalah jalan yang melintasi Kecamatan Meukek, Kecamatan Sawang,  dan Kecamatan Trumon, yang juga berada di gunung. Jika dilihat secara versi Aceh Selatan sebelum pemekaran, malah lebih banyak lagi jalan-jalan yang berada di gunung. Makanya kenapa di awal saya menyebut bisa menghabiskan waktu perjalanan yang lama dari ujung ke ujung kabupaten ini. Dengan sebagian besar badan jalan nasional ada di pegunungan, tentu membuat perjalanan lebih lama dari yang seharusnya.

Tapaktuan

Gambar salah satu desa yang ada di kecamatan Tapak Tuan. Ada beberapa desa yang memang berada di kaki gunung dan langsung menjorok ke laut. Saya kurang tahu persis apa nama desa dalam foto ini karena ini bukan foto saya 😀 Jadi, beginilah kira-kira gambaran topografi wilayah di sekitar Tapak Tuan. Foto: borgese[dot]wordpress[dot]com

Menurut saya, jalanan di gunung yang membuat saya merasa ‘ngeri-ngeri sedap’ ketika melewatinya adalah jalanan di Kecamatan Tapak Tuan dan di Kecamatan Trumon. Di Trumon ada gunung kapur yang meskipun gunungnya tidak securam gunung di Tapak Tuan, tetapi jalannya agak terlalu tinggi. Tetapi yang paling mengerikan buat saya adalah jalan di Kecamatan Tapak Tuan, yang mana badan jalan berada di pinggiran gunung dengan sisi satunya lagi adalah jurang yang curam yang langsung mengarah ke laut. Belum lagi jumlahnya keloknya yang hampir menyamakan Kelok 44 di Sumatera Barat 😀

Itu semua adalah aset tak ternilai yang dimiliki  Kabupaten ini. Alam yang indah bagaikan sepotong hamparan surga, didukung pula dengan alamnya yang subur dan hasil laut yang melimpah adalah anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya. Nelayan di Aceh Selatan adalah nelayan yang bahagia karena hasil tangkapan mereka yang melimpah. Petani di Aceh Selatan adalah petani-petani yang bahagia karena hasil alam berupa pala atau pinang atau nilam, adalah sedikit dari hasil alam terbaik yang selalu diburu oleh toke-toke dari Sumatera Utara.

Hasil alam di Aceh Selatan; pala, pinang, nilam, dan padi. Foto: dari berbagai sumber, edited by me

Hasil alam di Aceh Selatan; pala, pinang, nilam, dan padi. Foto: dari berbagai sumber

Belum lagi jika berbicara tentang keragaman penduduknya, jika dilihat dari suku-suku penduduk asli di Aceh Selatan. Dibanding kabupaten-kabupaten lainnya di Provinsi Aceh, Aceh Selatan termasuk kabupaten yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi. Dulu sebelum pecah menjadi tiga bagian, terdapat banyak sekali suku dengan 7 (tujuh) ragam bahasa daerah. Singkil menyumbang banyak atas keberagaman tersebut. Bisa dimaklumi, karena daerahnya memang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara. Sekarang, terdapat 3 (tiga) saja jumlah suku dan bahasa di Aceh Selatan; Aceh, Aneuk Jamee, dan Kluet. Meski demikian, jumlah ini bisa dibilang termasuk banyak karena suku Aneuk Jamee dan Kluet hanya terdapat di Kabupaten Aceh Selatan.

Puluhan tahun hidup dalam keberagaman, sama sekali tidak membuat masyarakatnya terpecah belah. Sebaliknya, masyarakat di Aceh Selatan hidup tentram damai bahagia gemah ripah loh jinawi. Seperti hidup di surga.

Jika mau mengeskplor keindahan alam dan wisata di Aceh Selatan, maka tidak akan ada habisnya. Setiap jengkal tanah di Aceh Selatan adalah surga. Sayangnya, sejak dahulu kala bahkan sampai sekarang, Pemda Aceh Selatan seperti menutup mata akan potensi tersebut, khususnya untuk pengembangan daerah ini sebagai daerah wisata. Info wisata tentang keindahan daerah ini hanya menjadi bagian dari seremonial saja, seperti saat mengikuti pameran PKA di Kota Banda Aceh atau kegiatan-kegiatan serupa lainnya.

Belum lagi jika melihat kondisi jalan di kawasan pegunungan yang sejak dahulu kala cukup memprihatinkan, terutama jalan di gunung Tapak Tuan. Proyek perbaikan jalan di daerah ini adalah proyek abadi Pemda Aceh selatan. Perbaiki-rusak-perbaiki, begitulah siklus tahunan Pemda. Siklus rusaknya jalan di daerah ini memang lebih sering karena pengaruh alam–umumnya karena longsor–tetapi jika kreatif, dibantu dengan teknologi, manusia bisa menaklukkan alam, demi kehidupan yang lebih baik. Kondisi jalan yang baik akan membuat pendatang merasa senang karena perjalanannya tidak terganggu, kegiatan transportasi akan berjalan lancar, dan kegiatan perekonomian akan meningkat lebih baik karena nelayan dan petani bisa ‘mengekspor’ hasil alam mereka ke provinsi sebelah.

Ah, mungkin kami terlalu enak berada di surga. []



About

An ordinary woman | A Lifestyle Blogger | Working Mom | Books enthusiast | Love to read and write | Owner of www.fardelynhacky.com |


'Aceh Selatan: Sepotong Surga di Bumi Serambi Mekkah' have 1 comment

  1. September 10, 2015 @ 11:24 am Sukma Hayati

    Setuju kak ! Memang pantai barat-selatan keren banget pemandangannya.

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool