Asam Sunti, Bumbu Penyedap Masakan Khas Aceh

Jika ditanya, apa bumbu penyedap khas dari Aceh, maka asam suntilah jawabannya. Terbuat dari belimbing Wuluh, asam sunti termasuk bumbu masakan yang bisa tahan lama, bahkan bisa tahan lebih dari setahun. Kok bisa? Proses pengeringannya dan penggaraman yang maksimal lah yang membuat belimbing wuluh kering ini bisa bertahan lama. Sebenarnya, jika dikatakan kering, asam sunti ini sendiri tidak terlalu kering, apalagi keras. Masih terdapat sedikit kandungan air pada belimbing wuluh yang sudah kering ini.

Cara membuat asam sunti sangatlah mudah dan sangat tradisonal sekali. Beda orang, beda pula cara memproses asam sunti, tetapi proses intinya tetaplah sama, yaitu dijemur (di bawah terik matahari) dan digarami. Penggaraman berfungsi untuk mempercepat proses pengeringan dan mencegah pembusukan. Kadar garam yang tinggi bisa menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

Saya merujuk pada cara almarhumah nenek saya saat membuat asam sunti. Ya, di keluarga saya, hanya nenek sayalah yang rajin membuat sunti. Dan entah kenapa, pekerjaan membuat sunti ini selalu identik dengan pekerjaan orang tua, bahkan uzur. Hal ini mungkin karena dalam pengerjaannya sangatlah mudah, tidak membutuhkan tenaga yang berat dan bisa dilakukan sebagai pekerjaan sampingan.

Belimbing Wuluh di depan rumah saya

Belimbing Wuluh di depan rumah saya

Bahan dasar untuk membuat asam sunti adalah belimbing wuluh. Pilihlah belimbing wuluh yang sudah siap panen yaitu yang besar-besar dan montok, tetapi masih berwarna kehijauan. Kata nenek saya, semakin matang belimbing wuluh yang digunakan untuk membuat asam sunti maka semakin bagus kualitas sunti yang dihasilkan. Saya membuktikan membuat sunti dari belimbing wuluh yang kecil dan muda. Hasilnya sunti buatan saya tidak bagus dan cepat busuk 😀

Setelah belimbing Wuluh dipetik, ada sebagian orang yang langsung menjemur belimbing wulu tersebut, ada yang merebusnya sebentar saja, ada juga yang merendamnya dengan hangat saja. Nenek saya biasanya merendamnya dengan air hangat saja setelah dipanen. Dipanen di sore hari, barulah besoknya dijemur.

Yang penting untuk diperhatikan dalam membuat sunti adalah pastikan cuaca hari itu panas dan terik. Terik matahari menjadi faktor utama dalam proses pengeringan belimbing wuluh sebelum menjadi sunti. Proses pengeringan bisa sampai 4 atau 5 hari, tergantung terik matahari. Jika kira-kira hari sangat panas, 4 hari cukup. Nenek saya menjemur belimbing sejak jam 9 pagi hingga waktu Asar tiba.

Di hari pertama penjemuran, belimbing wuluh dijemur begitu saja (tidak ditambah garam). Bisa diletakkan dalam wadah apa saja, tergantung ketersediaan wadah di rumah masing-masing. Kalau di kampung-kampung, di mana perempuan kampung biasa membuat sunti dalam jumlah yang banyak, mereka menjemur sunti di atas eumpang (karung plastik) bekas atau bleut (anyaman yang terbuat dari daun kelapa).

Sudah kering dan menjadi sunti. Gambar: Facebook Kak PIPI

Sudah kering dan menjadi sunti. Gambar: Facebook Kak PIPI

Sore hari, ketika matahari mulai condong ke barat, belimbing wuluh yang dijemur tadi, diangkat dan dibawa masuk ke dalam rumah. Saat ini, belimbingnya sudah berwarna agak kekuningan. Nah, di saat inilah proses penggaraman dilakukan. Sebaiknya garam yang digunakan adalah garam kampung, bukan garam Yodium.

Lanjut di hari kedua, belimbing yang sudah digarami kemarinnya akan terlihat berair di pagi hari. Air ini berasal dari garam yang dibalur dengan belimbing.

Lakukan hal yang sama sampai 4-5 hari. Setelah selesai proses pengeringan, sunti  sebaiknya disimpan terlebih dahulu, tidak langsung digunakan sebagai bumbu masak. Lho, kenapa bisa begitu? Karena sunti yang baru jadi masih agak berlendir sehingga kurang enak jika langsung digunakan sebagai bumbu masakan. Nenek saya menyimpan sunti yang baru jadi selama dua bulan, dalam empang kecil yang bersih, barulah dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi saat beliau membuat sunti, harus ada cadangan sunti lainnya selama menunggu sunti yang baru dibuat benar-benar siap digunakan. Sunti bisa digunakan dalam berbagai jenis gulai ikan.

Begitulah cara membuat membuat sunti, bumbu khas Aceh yang sangat terkenal.

Bagi mereka yang lahir dan besar di Aceh, tidak lengkap rasanya makan gulai ikan jika tidak ditambahi  asam sunti. Lidah orang Aceh adalah lidah asam sunti. Ke manapun mereka pergi, dipastikan mereka akan membawa sunti, bahkan meski itu ke luar negeri sekalipun.



About

An ordinary woman | A Lifestyle Blogger | Working Mom | Books enthusiast | Love to read and write | Owner of www.fardelynhacky.com |


'Asam Sunti, Bumbu Penyedap Masakan Khas Aceh' have 4 comments

  1. August 12, 2015 @ 6:26 pm Hidayah Sulistyowati

    Kok warnanya bisa jadi orange ya, Ely?

    Aku dulu suka bikin rujak belimbing wuluh, suegeerr

    Reply

  2. August 12, 2015 @ 8:08 pm khairiah

    Bener banget asam sunti sama ikan kayu

    Reply

  3. May 25, 2016 @ 12:26 pm lina

    Aduh….enaknya…tapi susah kalau bikib sendiri. Bisa beli dimana ya mba? thanks infonya…

    Reply

    • June 6, 2016 @ 12:13 pm Yudi Randa

      kalau anda di aceh, mencari asam sunti bisa di pasar2 tradisional.
      bila ada di jakarta, maka asam sunti biasanya ada di pasar tradisional pasar minggu. thx

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool