adat istiadat di aceh

Begini Adat Istiadat di Aceh Untuk Menyenangkan Ibu Hamil

[kkstarratings]Lain padang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya. Pepatah ini sangat cocok disandingkan untuk keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang ada di negara kita tercinta. Contohnya saja dalam memperlakukan seorang ibu hamil. Setiap daerah di Indonesia, memiliki tradisi tersendiri ketika seorang ibu hamil telah memasuki bulan ke tujuh kehamilannya. Lain daerah lain pula tradisinya. Demikian juga di Aceh, memasuki bulan ke 7 atau minggu ke 28 kehamilan, ada sebuah adat istiadat di Aceh yang sampai saat ini masih dilakukan, namanya keumaweuh yang juga dikenal dengan istilah jak me bu (membawa nasi).

adat istiadat di Aceh

Adat istiadat di Aceh dalam menyambut 7 bulan kehamilan adalah momen yang paling ditunggu oleh sang ibu maupun keluarga terutama keluarga suami. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh khususnya keluarga suami untuk mengantarkan nasi dan buah-buahan bagi istri yang sedang hamil anak pertama. Hal itulah yang saya alami saat mengandung anak pertama dulu. Ketika kandungan saya sudah memasuki usia 7 bulan, maka diadakanlah adat istiadat di Aceh ini.

Tradisi keumaweuh ini diselenggarakan oleh keluarga istri. Biasanya langsung diselenggarakan di rumah orang tua istri. Sedangkan keluarga suami membawa bu gateng, yang isinya berupa nasi dan lauk pauk dan berbagai macam kue khas Aceh seperti meuseukat, wajik, dodol, bhoi, timphan, keukarah, dan beragam makanan lainnya dalam jumlah besar.

adat istiadat khas Aceh

Dodol, salah satu makanan khas Aceh

Meskipun sama-sama orang Aceh, tetapi saya dan suami berasal dari kebupaten yang berbeda. Saya dari Pidie dan suami dari Aceh Besar. Beda tempat tinggal, beda pula adat istiadatnya walaupu sama-sama bersuku Aceh. Jika di Pidie, sangat banyak adat istiadat yang dilakukan untuk menyambut anak pertama. Mulai dari tiga bulan kehamilan sampai tujuh bulan, tergantung dari kesanggupan sang empunya hajatan. Dan saat menyambut tujuh bulan kehamilan, seluruh makanan dibawa oleh pihak suami ke rumah istri lalu disantap bersama-sama. Lain halnya dengan sebagian penduduk Aceh Besar. Ketika keumaweuh tiba, maka pihak suami akan menyerahkan sejumlah uang ke orang tua istri untuk memasak apa saja yang disukai oleh sang ibu hamil. Lalu ketika tiba hari H, keluarga suami hanya membawa makanan lain seperti ketan, keukarah, bhoi, wajeek, rujak, dan buah-buahan. Jika membawa nasi dan lauk-pauk yang telah dimasak, ditakutkan akan basi apalagi perjalanan yang ditempuh lumayan jauh.

makanan khas aceh adat istiadat khas Aceh

Makanan khas Aceh yang dibawa oleh keluarga suami saat keumaweuh

Oleh karena itu, maka sehari sebelum menyambut datangnya mertua untuk mee bu gateng, istilah lain untuk keumaweuh, mamak dan para tetangga mulai sibuk menyiapkan aneka masakan. Ada yang membuat timphan dan kue-kue basah lainnya, ada yang menggiling bumbu untuk memasak lauk, ada yang membersihkan ayam dan bebek, dan lain-lain.

Pagi hari sebelum rombongan datang, para tetangga yang sebelumnya telah banyak membantu juga kembali hadir. Di antara mereka ada yang membungkus nasi dengan daun pisang, menyiapkan aneka hidangan, dan juga menyambut beberapa tamu undangan yang datang. Ya, pada hari keumaweuh tersebut, tidak hanya keluarga suami yang hadir tetapi juga mengundang tetangga dan sanak saudara. Ketika keluarga suami datang, kehadiran mereka disambut dengan suka cita oleh keluarga istri dan juga para tetangga.

Ketika keluarga suami sampai, maka adat istiadat di Aceh khususnya keumaweuh yang pertama sekali dilakukan adalah peusijuk (tepung tawar). Ibu hamil duduk di atas kasur yang telah dibalut dengan seprai khas Aceh. Kemudian, mertua dan keluarga terdekat melakukan peusijuk kepada sang ibu hamil. Dalam kegiatan peusijuk tersebut, mertua mendoakan agar ibu dan janin yang dikandungnya selalu sehat sampai melahirkan kelak. Lalu seluruh keluarga yang hadir baik itu dari pihak suami maupun kerabat istri menyalami satu persatu. Setelah dilakukan peusijuk, keluarga suami menyantap aneka hidangan yang telah disiapkan oleh keluarga istri.

Begitulah adat istiadat di Aceh dalam menyambut tujuh bulan kehamilan. Sebenarnya tujuan lain dari keumaweuh ini adalah untuk memperkuat silaturrahmi antar keluarga suami dan istri. Selain itu, dari sisi psikologis, keumaweuh juga ditenggarai bisa memperkuat rasa percaya diri dan meningkatkan nilai gizi ibu hamil.

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: hotel di Aceh, Paket Wisata, dan Tiket ke Aceh

 



About

Liza Fathiariani, blogger, traveler, and medical doctor. Author of www.liza-fathia.com and contributor of helloacehku.com


'Begini Adat Istiadat di Aceh Untuk Menyenangkan Ibu Hamil' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool