Rumah Tsunami Aceh di daerah Ulee Lheue

Duh, Rumah Tsunami Aceh Ini Dijadikan Tempat Menembak

Tak terasa, sudah 12 tahun tsunami Aceh berlalu. Kejadian besar yang sulit untuk dilupakan. Ribuan orang jadi korban. Keceriaan Minggu pagi, 26 Desember 2004, silam hilang seketika. Bumi bergoyang, gempa berkekuatan besar 9,2 SR merusak segalanya. Dan kehancuran ini semakin parah berselang menit kemudian saat tsunami besar datang menghantam.

 

Saya masih ingat, bagaimana kekacauan kota selepas gempa dan tsunami Aceh menerjang. Semuanya berantakan. Jalanan penuh debu, kota serupa kota mati, puing bertumpuk di hampir sudut jalan. Dan suasana ini terus bergulir hingga berbulan-bulan kemudian.

 

Rumah Tsunami Aceh tampak dari depan

Rumah Tsunami Aceh tampak dari depan

 

Setiap masuk bulan Desember, saya seakan memiliki rutinitas yang sama setiap tahunnya. Rutinitas yang entah sejak kapan saya lakoni; mengelilingi kawasan tsunami Aceh.

Acapkali kebiasaan tahunan ini saya lakoni bersama teman-teman. Selain membandingkan keadaan dulu dan sekarang, ini juga wujud mensyukuri kehidupan lebih baik setelah tragedi besar itu. Dan untuk tahun ini, saya melakoni rutinitas ini Minggu kemarin.

 

Setelah menghadiri pernikahan seorang teman di Masjid Raya Baiturrahman, saya bersama Mira−istri−memutuskan keliling kota. Kawasan yang kami tuju adalah Ulee lheue, sebuah tempat yang dulunya luluhlantak nyaris rata dengan tanah. Sepeda motor saya arahkan dari pintu belakang Masjid Raya Baiturrahman. Melewati persimpangan Blang Padang yang padat Minggu pagi itu. Masyarakat kota tumpah ruah sekadar menjadi sarapan pagi, berolahraga atau bercengkerama. Saya masih ingat, saat Minggu kejadian 12 tahun lalu, Blang Padang dipenuhi ratusan pelari yang mengikuti turnamen maraton. Tetapi, gempa dan tsunami Aceh menghancurkan kegiatan itu. Banyak pelari yang akhirnya menjadi korban.

 

Nama-nama korban yang tersemat di dinding luar Rumah Tsunami Aceh

Nama-nama korban yang tersemat di dinding luar Rumah Tsunami Aceh

 

Saya terus melaju sepeda motor di sepanjang jalan Iskandar Muda, Ulee Lheue. Kawasan ini terlihat lebih rapi sekarang. Jauh sekali bila dibandingkan sebelum tsunami Aceh silam. Dulu, jalur jalan ini hanya satu arah. Sepanjang jalan ditumbuhi pohon asam berukuran besar. Sedikit sekali pertokoan. Namun, sekarang berubah total. Jalanan lebih sibuk, komplek pertokoan berdiri sepanjang jalan, hotel-hotel mulai tumbuh. Dan kini, Ulee Lheue yang dulu sepi seakan berubah menjadi pusat kuliner baru di Banda Aceh.

 

 

Dari kepadatan pertokoan dan denyut bisnis yang terus bergerak, ternyata Ulee Lheue masih menyimpan banyak peninggalan-peninggalan tsunami Aceh. peninggalan-peninggalan ini masih bertahan kuat walau tsunami Aceh telah berlalu 12 tahun lamanya. Salah satunya adalah Rumah Tsunami Ulee Lheue.

 

Ruang keluarga yang rusak akibat tsunami Aceh

Ruang keluarga yang rusak akibat tsunami Aceh

 

Rumah Tsunami Ulee Lheue letaknya sangat strategis, tepat di pinggir Jalan Iskandar Muda. Siapapun yang melintas dengan mudah menemukan rumah ini. Ia berada tepat di antara warung kopi dan rumah putih bergaya kolonial. Saya memarkirkan sepeda motor di halaman depannya yang luas. Beberapa kursi kayu berjejer rapi di bawah kanopi. Taman bunga terawat rapi dengan rerumputan menghijau sempurna.

 

 

Saya mencoba mengelilingi rumah ini dan melihat seksama puing-puing yang tersisa. Rumah besar ini hanya menyisakan lantai satu dari dua lantai bangunan. Sehingga atapnya menganga lebar. Tiang-tiangnya hancur, dinding penyekat antar ruangan juga hancur. Bahkan, di beberapa sisi lantai keramik tercerabut hingga menyisakan semen dasar. Melihat kerusakan rumah ini begitu parah, saya menyadari tsunami Aceh 12 tahun silam begitu kuat di daerah Ulee Lheue. Airnya sangat tinggi. Bahkan melewati ketinggian rumah. Ini saya ketahui dari tugu tsunami yang berdiri tidak jauh dari rumah ini.

 

Tugu tsunami Aceh yang menunjukkan batas ketinggian air saat tsunami

Tugu tsunami Aceh yang menunjukkan batas ketinggian air saat tsunami

 

Saya taksir Rumah Tsunami dulunya bangunan mewah. Terlebih lagi bangunannya terdiri dari dua lantai. Ini terlihat dari pijakan tangga yang masih tersisa. Di sudut luar rumah, sebuah prasasti menempel di dinding, menjelaskan nama pemilik rumah dan delapan korban hilang saat tsunami Aceh menerjang. Mereka adalah Iptu Pol (AMT) Dewa M Adrian seorang Akpol TMT tahun 2002, Nurjani (71 tahun), Yusniar (33 tahun), Nia Rosdalena (20 tahun), Hendra S (31 tahun), Esty Rahayu (19 tahun), Suyanto (16 tahun), dan Mimi Maulida (2 tahun). Tidak ada informasi lengkap siapa sebenarnya Iptu Pol (AMT) Dewa M Adrian yang namanya tersemat di Rumah Tsunami ini. Sepertinya, rumah ini merupakan hibah keluarganya untuk dijadikan situs tsunami Aceh.

 

Tangga menuju lantai dua yang rusak akibat hantaman tsunami Aceh

Tangga menuju lantai dua yang rusak akibat hantaman tsunami Aceh

 

Di Banda Aceh sendiri tercatat ada beberapa rumah yang dijadikan situs tsunami Aceh. Hingga kini, rumah-rumah tersebut bisa dilihat dengan baik. Selain Rumah Tsunami di Ulee Lheue, juga ada rumah di Lampulo yang di atasnya bertengger kapal nelayan. Selain itu, ada juga rumah di desa Lambung yang merupakan satu-satunya bangunan utuh di desa tersebut. Semua rumah-rumah ini kini dijadikan situs tsunami Aceh untuk mengenang dahsyatnya peristiwa 12 tahun silam.

 

Saya mencoba mengelilingi rumah untuk mencari informasi lebih lengkap. Namun, saya kesulitan sebab tidak ada papan informasi selain plang nama di depan tadi. Seseorang perempuan duduk di kursi kayu di bawah kanopi. Ingin bertanya banyak, tetapi ia sepertinya sedang sibuk menyiapkan peralatan menembak. Melihat aktifitasnya saya menyadari, rumah ini ternyata sedikit beralihfungsi. Bukan sekadar merawat kisah tsunami Aceh, tetapi telah menjadi lokasi latihan menembak. Aduh!

 

Papan tembak yang terdapat di ruang tamu

Papan tembak yang terdapat di ruang tamu

 

Ada beberapa papan menembak yang tersusun di ruang tengah. bahkan saat mengelilingi rumah saya juga menyadari, beberapa ruangan telah beralih fungsi. Ada yang dijadikan mushalla dan toilet pengunjung. Beberapa batu bata baru tersusun di area belakang, saya kurang tahu mau dibangun apa di sana. Bahkan, terasnya yang dulu menganga kini telah ditambal kanopi. Suasananya sedikit berubah dibandingkan saat saya berkunjung ke sini beberapa tahun lalu.

 

Beralihfungsinya beberapa ruangan di Rumah Tsunami bagi saya terbilang miris. Takut jika satu persatu ruangan akan berubah sehingga gurat-guratan sisa tsunami Aceh akan hilang. Mudah-mudahan, pemerintah kota Banda Aceh bisa mengelola rumah hibah ini dengan lebih baik. Agar pengunjung lebih ramai dan bukti nyata tsunami Aceh tetap terawat.

 

 

 



About

Hobi menulis. Tukang koleksi buku. Penulis serial "Teller Sampai Teler" (Elexmedia 2014). Follow twitter @ferhatmuchtar email; ferhattferhat@gmail.com Baca tulisan lainnya di www.ferhatt.com (kunjungi yaa)


'Duh, Rumah Tsunami Aceh Ini Dijadikan Tempat Menembak' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool