Bukit Ujong Pacu

Panorama Ujong Pacu di Utara Aceh

Sekilas terdengar seperti Ujong Pancu. Sebenarnya dua tempat yang berbeda. Ujong Pacu berada di Aceh bagian utara, tepatnya di Kota Lhokseumawe. Sedangkan Ujong Pancu beada di Kabupaten Aceh Besar, nun jauh di ujung paling barat. Tapi keduanya sama-sama memiliki pesona dengan ciri khas yang menawan.

Ujong Pacu adalah wilayah berbukit-bukit dengan dataran sawah menghampar di bawahnya. Sebuah sungai kecil meliuk membelah dataran sawah yang jika sedang musim tanam, bak padang hijau nan luas jika dilihat dari atas puncak perbukitannya.

Akibat rasa penasaran, saya terpikir untuk berkemah di atas perbukitan itu. Saya lupa nama bukit yang bersebelahan dengan kompleks perumahan PT. Arun itu. Setelah survey lokasi seminggu sebelumnya, saya mengajak seorang teman untuk ikut kamping bersama.

Bukit Ujong Pacu Aceh

Panorama dari atas puncak bukit Ujong Pacu.

Permukaan bukit ditumbuhi pepohonan yang tumbuh jarang-jarang. Lebih dominan rumput dan semak perdu. Sebuah jalan setapak yang sering dilalui sapi tampak berujung di pinggir jalan aspal yang berada tepat di bawah bukit. Kami mengikuti jalan setapak untuk mendaki ke atas. Kecuraman bukit membuat kami lumayan ngos-ngosan pada sore yang lumayan terik waktu itu.
Tiba di puncak, kami berjumpa dengan beberapa anak-anak yang sedang mencari sapi kakeknya untuk digiring kembali pulang ke kandang. Biasanya sapi-sapi dapat pulang sendiri tanpa dijemput, kadang sapi jantan jika terpikat sapi betina milik orang lain suka lupa jalan pulang. Mereka menjadi kawan selama kami mendirikan kemah.

Bukit Ujong Pacu Aceh

Tamu dan teman menanti senja.

Bukit Ujong Pacu Aceh

Mengantarkan matahari ke peraduan.

Lokasi yang kami pilih tepat berada di atas bukit yang datar. Ketinggiannya saya taksir tak sampai 200 mdpl. Pohon kuda-kuda tumbuh berjajar rapi di belakang tenda kami. Menjadi pembatas tanah-tanah warga. Setelah tenda berdiri, saya menyiapkan peralatan memasak untuk nanti malam dan menyusunnya di dekat pintu tenda agar mudah mengeluarkannya kelak. Menanti malam, kami duduk di beralaskan rumput menikmati semburat senja dan matahari tenggelam.
Malam berlalu dengan langit tertutup awan. Agak sedikit kecewa karena saya yang tadinya berharap bisa memandangi bintang. Tapi saya cukup dihibur dengan nyanyian alam malam yang menyenangkan. Suara serangga dan kicau sendu dari burung yang bersarang di semak-semak mengantarkan kami tidur.

Bukit Ujong Pacu Aceh

Suasana malam saat berkemah.

Siapa sangka ternyata pagi dari atas Ujong Pacu amat memesona. Kabut tipis bagaikan selendang melayang di atas petak-petak sawah. Semburat matahari pagi dari balik perbukitan menyeruak menerangi pucuk-pucuk nyiur yang lambat-lambat bergerak menyinari embun di pucuk tanaman padi yang baru ditanam.

Bukit Ujong Pacu Aceh

Selendang putih membalut persawahan pada pagi hari.

Seiring makin tingginya matahari, sejuk udara pagi mulai digantikan dengan udara hangat. Kawanan sapi-sapi kembali merumput, menaiki undakan-undakan yang mereka bikin sendiri hingga ke puncak, menghindari tempat kami berkemah, menuruni lereng-lereng ke arah barat sambil terus mencerabuti rumput dengan bibirnya yang hitam dan gigi-gigi yang kuning. Suara cerabutan rumput, suara kuku yang membentur batu, dan lenguhan sapi terdengar bagai ritme yang khas. Kami berkemas setelah kawanan sapi menghilang ke balik bukit dan sebelum matahari memanggang kami di atas sana.



About

Traveler cilet-cilet aka traveler abal-abal ini sangat menyukai berkemah di pantai dan bukit. Penggemar ifu mie dan teh dingin. Berumah di hananan.com


'Panorama Ujong Pacu di Utara Aceh' have 1 comment

  1. August 27, 2015 @ 2:21 pm muslem

    saya orang ujong pacu…
    tlng ambil foto yg laen juga…
    ini yang di tower raja ladnyang ya

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool