(SEJARAH) Menelisik Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai Lebih Jauh

Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam yang ada di Propinsi Aceh. Inilah kerajaan Islam pertama yang berdiri di tanah Nusantara. Pendiri dari kerajaan Samudera Pasai adalah Marah Silu yang memperoleh gelar bernama Sultan Malik Al-Saleh. Kejayaan dari Samudera Pasai tidak bertahan lama. Berdiri tahun 1267 dan harus runtuh akibat serangan Portugal di tahun 1521 menjadi akhir keberadaan Samudera Pasai.

Namun, Ezytravelers masih dapat menjumpai Peninggalan kerajaan samudera pasai. Meskipun sudah terhitung memiliki jarak yang lama dengan tahun sekarang ini, peninggalan-peninggalan sejarah Samudera Pasai masih dapat disaksikan secara langsung. Ezytravelers dapat menyimak Peninggalan samudera pasai di bawah ini.

 

Peninggalan Makam Sultan Malik Al-Saleh

Makam Sultan Malik Al-Saleh

Ezytravelers dapat menjumpai peninggalan Kerajaan Samudera Pasai. Peninggalan yang dimaksud adalah makam dari Sultan Al-Saleh yang tidak lain pendiri dari Samudera Pasai. Ezytravelers dapat meihat langsung makam tersebut. Dengan mengunjungi kota Lhokseumawe bagian timur menuju Desa Beuringin. Di sanalah tempat makam Sultan Malik Al-Saleh berada.

 

Peninggalan Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Masih ada peninggalan berupa makam untuk Ezytravelers ketahui. Selin makam Sultan Malik Al-Saleh, ada pula makam Teungku Peuet Ploh Peuet yang dibunuh karena prinsipnya. Yaitu, haram jika seorang raja harus menikahi putri kandung sendiri. Ezytravelers dapat menuju ke Gampong Beuringen untuk berziarah di makam Teungku Peuet Ploh Peuet.

 

Peninggalan Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Apakah Ezytravelers merasa belum pernah tahu nama dari tokoh satu ini di Kerajaan Samudera Pasai? Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah adalah sosok yang menjabat sebagai Menteri Keuangan pada masa Samudera Pasai berjaya. Makam dari Teungku Sidi Abdulla Tajul Nillah menjadi salah satu bagian peninggalan penting kerajaan Islam dari Aceh ini. Ezytravelers dapat berziarah ke makam beliau di kawasan Gampong Kuta Krueng. Untuk mengenalinya, Ezytravelers dapat melihat kaligrafi pada batu nisan makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah.

 

Peninggalan Cakra Donya

peninggalan kerajaan samudera pasai

Peninggalan bersejarah yang menjadi bukti keberadaan Samudera Pasai adalah Cakra Donya. Apa itu? Cakra Donya adalah lonceng raksasa dan dikenal sebagai stupa. Memiliki tinggi 125 cm serta lebar 75 cm. Konon menurut sejarah, Cakra Donya diberikan Kaisar Cina kepada kerajaan Islam di Aceh ini memasuki abad ke-15 pertengahan Masehi. Jika Ezytravelers ingin melihatnya, maka berkunjunglah ke Museum Aceh berada. Tepatnya di bagian halaman Museum Aceh tersebut. Sudah banyak Ezytravelers yang melihat langsung dan mengambil foto dari salah satu Peninggalan kerajaan samudera pasai tersebut. Dulunya, Cakra Donya ditempatkan pada kompleks tempat Istana Sultan Aceh.

 

Peninggalan Dirham Pasai

dirham pasai

Seperti apakah uang atau alat pembayaran pada zaman kerajaan? Ezytravelers tentu bertanya-tanya uang koin atau uang kertas yang ada pada saat Kerajaan Samudera Pasai berjaya. Jawabannya dapat diperoleh dari peninggalan yang telah ditemukan. Yaitu, dirham Pasai yang mulai diberlakukan pada kejayaan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir. Uang dirham tersebut berupa koin emas murni 18 karat dengan kemurnian 70%. Dirham Pasai termasuk mata uang yang kuno dan paling tua se-Asia Tenggara. Ezytravelers dapat melihat melihat Peninggalan samudera pasai uang dirham ini di museum Islam Samudera Pasai yang ada di sebuah desa bernama Desa Beuringen, Aceh Utara.

 

Peninggalan Hikayat Raja-raja Pasai

hikayat raja raja pasai

Dari ditemukannya peninggalan kerajaan, maka orang-orang dapat mengetahui sejarah dan bukti keberadaan kerajaan tersebut. Kerajaan Samudera Pasai pun dapat diketahui sejarahnya berdasarkan hikayat yang ditemukan. Hikayat tersebut dikenal dengan nama Hikayat Raja-raja Pasai yang diduga dibuat di abad ke-14 Masehi. Hikayat tersebut memiliki bahasa Melayu dan merupakan karya sastra yang menjelaskan kondisi Kerajaan Samudera Pasai kala itu.

 

Surat Milik Sultan Zainal Abidin

Ada hikayat dan ada pula surat kuno. Ezytravelers perlu mengetahui pula bahwa ada peninggalan surat Sultan Zainal Abidin yang telah ditemukan. Surat tersebut berupa tulisan tangan asli Sultan Zainal Abidin yang diberikan Kapitan Moran tahun 923 H. Untuk melihat langsung peninggalan surat milik salah satu raja dari Samudera Pasai, Ezytravelers dapat mengunjungi Museum Aceh.

Peninggalan-peninggalan yang sudah disebutkan tentu saja belum mencakup seluruhnya. Ezytravelers dapat mengetahui lebih lengkap Peninggalan kerajaan samudera pasai dengan mengunjungi langsung museum yang ada di Aceh. Salah satunya adalah Museum Islam Samudera Pasai yang sudah resmi berdiri di Aceh. Sehingga Eztravelers dapat belajar sejarah kerajaan Islam lebih mudah dengan fasilitas nyaman melalui Peninggalan samudera pasai yang menjadi bagian koleksinya.

Ingat, sebagai warga Indonesia, belajar sejarah tentang kerajaan itu penting. Apalagi dengan mengingat kembali Kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam yang pertama ada di Indonesia. Tentu perjuangan dari para raja saat itu tidak mudah. Dan Ezytravelers patut berbangga dan turut mengingat sejarah dengan tidak bosan berkunjung ke museum maupun tempat-tempat peninggalan dari Kerajaan Samudera Pasai berada.




'(SEJARAH) Menelisik Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai Lebih Jauh' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool