Ramadhan Di Mesjid Oman Banda Aceh

Aceh memiliki Mesjid Raya Baiturrahman sebagai kebanggaan masyarakat, maka warga Kota Banda Aceh juga bangga karena memiliki Mesjid Oman. Nama resmi mesjid ini adalah Mesjid Agung Al-Makmur. Akan tetapi bukan tanpa alasan warga sering menyebut mesjid dengan warna dominan putih ini sebagai Mesjid Oman. Beralamatkan di Jalan Tgk. H. M Daud Beureueh Desa Lampriet, mesjid ini juga kerap disebut dengan Mesjid Lampriet. Bahkan literatur menyebutkan bahwa mesjid ini beberapa kali telah mengalami pergantian nama.

Mesjid Agung Al-Makmur

Mesjid Agung Al-Makmur sebelum terjadinya gempa dan tsunami Aceh (bujang-mesjid.blogspot.com)

Sedikit riwayat mengenai Mesjid Agung Al-Makmur, mesjid ini menjadi salah satu saksi bisu akan dahsyatnya gempa dan tsunami yang melanda Aceh 11 tahun silam. Awal mulanya didirikan pada tahun 1979 oleh penduduk setempat. Pasca terjadinya gempa dan tsunami Aceh, kondisi mesjid ini rusak parah dan memerlukan banyak perbaikan. Bahkan beberapa penduduk berpendapat mesjid itu tidak layak lagi digunakan.

Akhirnya, perbaikan kembali Mesjid Agung Al-Makmur pasca gempa dan tsunami dilakukan oleh Pemerintah Oman.  Mesjid Agung Al-Makmur disanggupi untuk dibangun baru oleh Sultan Qabus Bin Said dari negara kesultanan Oman yang difasilitasi oleh Dr Helmi Bakar dari Hilal Merah Indonesia. Masa perbaikan mesjid ini lebih kurang 1,5 tahun dan rampung pada 19 Mei 2009 sekaligus diresmikan pemakaiannya. Mesjid dengan arsitektur layaknya bangunan di timur tengah itu menghabiskan dana sebesar 1,3 juta US Dolar atau sekitar Rp 17 Miliar yang seluruhnya merupakan bantuan Kesultanan Oman.

Mesjid Agung Al-Makmur

Mesjid Agung Al-Makmur dalam tahap renovasi         (bujang-mesjid.blogspot.com)

Pada awalnya nama Mesjid Agung Al-Makmur yang telah selesai dibangun ulang akan diberi nama dengan Mesjid Agung Al-Makmur Sultan Qabus Bin Said. Akan tetapi menjelang peresmian, oleh Kepala Perwakilan Negara Kesultanan Oman meminta agar nama Sultan Qabus Bin Said tidak dicantumkan. Sehingga nama Mesjid ini tetap disebut Mesjid Agung Al-Makmur saja. Karena sultan sendiri mengatakan pemberian ini adalah ikhlas dan tidak perlu dihubungkan dengan namanya. Walaupun demikian, karena mesjid ini dibangun oleh Pemerintah Oman, banyak orang kemudian mudah menyebutnya dengan nama “Mesjid Oman”.

Mesjid Agung Al-Makmur diresmikan pada 19 Mei 2009 dan dihadiri oleh Wali kota Banda Aceh Alm. Ir. Mawardy Nurdin, Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar dan Kepala Perwakilan Oman di Indonesia Hussain Ali Taher Musqaibal. Alm. Ir. Mawardy Nurdin berharap kehadiran mesjid dapat menambah keeratan tali persaudaraan antara Aceh dan Oman yang sudah terjalin sejak lama. Tak lupa harapan kepada warga Kota Banda Aceh untuk memakmurkan mesjid ini agar sesuai namanya.

Mesjid ini dapat menampung sekitar 2000 jamaah. Memiliki 2 menara dan 1 kubah menjadikan mesjid ini terlihat seperti mesjid di Timur Tengah. Mesjid ini terdiri dari tiga lantai. Lantai mesjid dilapisi permadani dan di dinding mesjid dihiasi dengan kaligrafi ayat al-qur’an. Anak tangga terdapat di sebelah barat dan timur mesjid. Tempat wudhu mesjid di Aceh terpisah antara laki-laki dan perempuan, begitu juga dengan mesjid ini. Mesjid Agung Al-Makmur memiliki 12 tiang penyangga utama yang terletak didalam mesjid.

Mesjid Agung Al-Makmur

Shaf Wanita

Mesjid ini pada awal diperbaiki oleh Pemerintah Oman menggunakan warna dominan cokelat dan warna kubah hijau. Saat ini, mesjid telah di cat ulang dengan warna dinding luar dominan putih. Tetap saja kemegahan mesjid ini tidak sirna meski telah berubah warna.

Mesjid Agung Al-Makmur

bMenara di sisi timur (kiri) dan di sisi barat (kanan)

Di halaman mesjid juga terdapat tugu peringatan tsunami, bantuan dari Negara Jepang. Ini merupakan tugu ke-6 dari banyaknya tugu peringatan tsunami yang dibangun di Kota Banda Aceh. Namun sayangnya tugu ini terletak di sudut pagar mesjid sehingga tidak terlalu diperhatikan.

Tugu peringatan tsunami

Tugu peringatan tsunami

Seperti halnya Mesjid-Mesjid lainnya, Mesjid Agung Al-Makmur juga mempunyai tradisi khusus guna menghidupkan Bulan Ramadan. Di sore hari, mesjid ini menyediakan penganan untuk berbuka puasa bagi jamaah yang biasanya disumbangkan oleh warga sekitar. Tak kurang dari 200 porsi makanan yang berasal dari sedekah warga setempat maupun dari para jamaah yang datang tersedia setiap harinya. Makanan yang dimaksud bisa berupa nasi atau pun kanji rumbi (sejenis bubur ayam). Warga yang datang berbuka puasa di sini sekaligus menjadi jamaah shalat maghrib. Shalat tarawih digelar setiap malamnya dengan jumlah jamaah terkadang melampui kapasitas Mesjid yaitu 2.000 orang. Sebelum shalat tarawih dimulai, jamaah akan mendengarkan ceramah terlebih dahulu yang disampaikan oleh penceramah hingga malam terakhir ramadhan nanti.

Ulama di Aceh

Syeikh Yahya Al-Zahrani, Syeikh Mohammed Ahmed Al-Zahrani dan Syeikh Sulaiman Al-Ziyadi bersama dengan Pemerintah Aceh – theglobejournal[dot]com

Pada Ramadhan tahun ini, Mesjid Agung Al-Makmur kembali menghadirkan imam dari Riyadh, Arab Saudi, yaitu Syeikh Yahya Al-Zahrani, Syeikh Mohammed Ahmed Al-Zahrani dan Syeikh Sulaiman Al-Ziyadi untuk memimpin shalat tarawih dan qiyamul lail pada 10 terakhir Ramadhan di mesjid ini. Mesjid ini merupakan satu dari banyak mesjid di Banda Aceh yang melaksanakan I’tikaf pada bulan Ramadhan. Pengurus mesjid juga menyediakan makanan sahur untuk jamaah yang melaksanakan I’tikaf. Usai shalat subuh kegiatan dilanjutkan dengan kajian rutin yang membahas materi-materi seputar shirah nabawiyah, ilmu fiqh, permasalahan hukum islam hingga masalah kesehatan. Salah satu buah yang khas keberadaannya di bulan Ramadhan yaitu kurma, juga terdapat di mesjid ini. Pohon tersebut tumbuh di halaman depan sekretariat mesjid. Walau hanya satu tandan saja, namun telah berbuah kurang lebih sebanyak empat kali.

Pasca perbaikan tersebut, mesjid ini menjadi semakin dikenal dan megah. Ornamen bangunannya yang meniru corak luar negeri membuat mesjid ini indah dipandang mata. Karena posisinya yang strategis, Mesjid Agung Al-Makmur ramai dikunjungi siapa saja, apalagi di Bulan Ramadhan ini. Sehari-harinya, banyak aktivitas yang bisa dilakukan di mesjid ini selain melakukan ibadah shalat fardhu berjama’ah. Tak jarang muda-mudi, juga ikut menghidupkan mesjid dengan mendirikan shalat Sunnah, adanya kegiatan pengajian yang dilaksanakan oleh pengurus mesjid, adanya kegiatan-kegiatan tarbiyah seperti halaqah yang sering dilakukan beberapa masyarakat disini, zikir bersama, kegiatan Festival Anak Shaleh Indonesia dan bahkan Mesjid ini juga digunakan sebagai tempat uji coba baca Al-qur’an bagi calon pasangan Wali kota dan wakil Wali kota Banda Aceh.



About

Dental student, Aviation Enthusiast, Plane Addict, Sky Lover, Flashpacker, Amateur Designer and Typographer, Nocturnal.


'Ramadhan Di Mesjid Oman Banda Aceh' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool