Sapaan Lembut dan Kasar yang Populer di Aceh

Sapaan? Tentu sangat erat kaitan dengan aktivitas sehari-hari. Di setiap tempat mempunyai sapaan khusus, apalagi dalam bahasa daerah. Aceh sendiri dikenal dengan kerumitan bahasa sehingga sedikit sukar dalam berinteraksi, jika belum terbiasa dengan kondisi masyarakat. Salah-salah pengucapan bisa membuat lawan bicara tersinggung. Di satu tempat (daerah) penggunaan sapaan tertentu bisa sangat wajar, di daerah lain bisa menjadi sangat kasar sekali. Bahasa sendiri menjadi sebuah media penting dalam rangka mengenal sampai ke akar-akarnya. Jika ingin mengetahui seluk-beluk tentang sebuah daerah, pelajari bahasanya terlebih dahulu. Dengan demikian, pengetahuan lain akan menyusul.

Bahasa bisa menyangkut dengan apas saja. Mengenal bahasa sehari-hari justru lebih penting karena berkaitan dengan percakapan pendek dan panjang. Kata sapaan walaupun tergolong pendek dan ringan saja, namun bisa bermakna lebih besar jika salah penempatannya. Sapaan yang saya maksud tak lain kata yang mempunyai arti kamu dan saya. Sapaan yang teramat sering diucapkan oleh siapapun. Dalam bahasa Aceh, sapaan kamu maupun saya mempunyai dua kosa kata yang berlawanan.

Sapaan untuk saya.

Lôn

Sapaan lôn merupakan sapaan yang lembut. Lôn digunakan dalam aktivitas sehari-hari dan tidak dipermasalahkan. Lôn bisa menjadi lebih lembut jika terdapat penambahan kata seperti lôn tuan atau ulôn tuan.  Dalam dialog (percakapan) yang menggunaan lôn ini bermakna menghormati diri sendiri dan tidak ada keangkuhan dalam mengeluarkan suara. Lôn menempatkan seseorang yang menyebutkan sebagai orang yang rendah diri.

Contoh penggunaannya; “Lôn ureung Aceh!” – Saya orang Aceh.

Kêe

Kêe merupakan sapaan kasar untuk diri sendiri. Kêe menjadi biasa saja dan wajar bagi masyarakat wilayah barat Aceh. Namun sapaan kai  menjadi sangat kasar untuk wilayah lain, khususnya wilayah timur dan utara. Sapaan Kêe menampakkan keangkuhan dalam berbicara dengan lawan. Kêe  jadi biasa saja jika berbicara dengan kawan sebaya, namun menjadi tidak bagus penempatannya jika berhubungan dengan orang lebih tua.

Contoh kalimatnya; ” Kêe ureung Aceh!”  – Aku orang Aceh.

Sapaan untuk kamu.

Drôe

Dalam bahasa Aceh juga sangat menghormati sapaan kepada lawan bicara, tidak hanya kepada diri sendiri saja. Sapaan Drôe ditujukan untuk memanggil kamu, atau bisa dengan lebih sopan lagi dengan menggunakan Drôeneuh (anda). Selain Drôe, sapaan lembut lain adalah gata yang bermakna sama.

Contoh penggunaannya; “Peu haba drôe lawet nyo?” – Apa kabar kamu selama ini?

Contoh lain; “Lôn ngoen gata,”  – Saya dengan kamu.

Kah

Kah lebih bermakna kau. Penggunaan kah sangat kasar jika menyapa orang yang lebih tua. Di sebagian daerah, kah wajar-wajar saja pengucapannya. Namun di daerah lain, kah sama dengan kee yang tidak lumrah digunakan.

Contoh penggunaannya, “Ho kemeung jak kah?” – Mau ke mana kau?

Begitulah sapaan bisa mengeratkan dan menjarangkan hubungan. Kecil memang, tetapi jika ada lawan bicara yang tidak terima atau salah pengertian, parang bisa melayang. Tertarik menggunakan sapaan ini di Aceh? Sebaiknya pintar-pintar dalam penggunaan dan memahami kultur masyarakat setempat.

Sapaan Aceh - sumber: www.jkma-aceh.org

Sapaan Aceh – sumber: www.jkma-aceh.org



About

Pemimpi|www.bairuindra.com|@bairuindra


'Sapaan Lembut dan Kasar yang Populer di Aceh' have 1 comment

  1. July 22, 2016 @ 12:43 pm ennerianurza

    Baru tinggal di aceh.. baru tau kee yg sering didengar dlm percakapan itu termasuk kasar.. harus hati2 ne kalo belajar..

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool