Serunya Melintasi Jalan Tengah Laut di Kota Banda Aceh

Serunya Melintasi Jalan Tengah Laut di Kota Banda Aceh

Banyak cara untuk menikmati keindahan Kota Banda Aceh. Ini yang saya lakukan ketika Minggu pagi kemarin. Mengendarai sepeda motor, saya mengintari tepian kota Banda Aceh yang berbatasan langsung dengan lautan lepas. Jalur yang saya tempuh pun termasuk yang sedikit sepi di saat pagi hari. Melewati Desa Peulanggahan, saya menyusuri jalanan yang berbatasan langsung dengan Krueng Aceh yang membelah kota. Perahu-perahu nelayan beragam warna berlabuh di tepi sungai. Sesekali terlihat nelayan menebar jala ikan. Deru perahu terdengar nyaring membelah air sungai yang tenang.

Peulanggahan adalah salah satu desa di Kota Banda Aceh. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Keudah, Gampong Pandee, dan Gampong Jawa. Ketiga desa ini terletak berdekatan dengan pesisir pantai. Maka tak heran, saat tsunami tahun 2004 silam, banyak masyarakat desa yang menjadi korban. Namun, segala kerusakan akibat peristiwa itu mulai sirna. Perumahan kembali dibangun dan aktifitas warga kembali bergerak. Denyut ini yang saya rasakan sepanjang menyusuri jalanan teduh yang dipayungi rimbunnya pohon cemara.

Tugu titik nol kota Banda Aceh

Tugu titik nol kota Banda Aceh

Tujuan saya sebenarnya ingin melihat titik nol Banda Aceh. Mungkin banyak yang belum begitu ngeh jika Banda Aceh juga memiliki titik nol. Mungkin sebagian hanya  mengira Sabang saja yang memiliki titik nol.

Kemahsyuran titik nol Banda Aceh mungkin gaungnya tidak sebesar titik nol di Sabang. Mungkin alasannya karena tempat ini kurang dikelola dengan baik. Itu saya sadari saat memarkirnya sepeda motor di Gampong Jawa. Di tengah rimbunan pohon, sebuah tugu kecil berdiri tepat di tepi jembatan kecil. Tugunya kecil sekali. Sebagian orang mengira mungkin ini hanya bangku tongkrongan biasa. Terlebih lagi areanya lumayan rimbun. Tidak ada kekhasan berarti di sekitar tugu titik nol Banda Aceh. Ia serupa bangunan biasa, jauh dari nilai historis. Padahal, jika merunut dari penjelasan di prasasti yang terukir di atas tugu, kawasan ini merupakan cikal bakal Kota Banda Aceh. Tempat awal mula kerajaan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Johansyah pada 1 Ramadan 601 H atau bertepatan 22 April 1205.

jalan Kota Banda Aceh yang membelah lautan

Jalan Kota Banda Aceh yang membelah lautan

Andai dikemas lebih baik, saya yakin kawasan ini akan menarik wisatawan untuk berkunjung dan mengetahui lebih dalam sejarah Kota Banda Aceh. Tapi apa daya, kemasannya terlalu biasa yang akhirnya membuat saya segera angkat kaki dari sana.

Tanggung  untuk pulang, saya mencoba memutar haluan. Sepeda motor saya arahkan ke jalan baru Gampong Pande yang bersisian langsung dengan laut lepas. Sebenarnya, selain ingin melihat titik nol Banda Aceh, tujuan saya yang lain adalah ingin menyusuri jalan ini. Salah satu alasannya karena di lintasan ini pemandangannya sangat aduhai sekali.

Jalan ini mejadi lokasi favorit para pemancing

Jalan ini mejadi lokasi favorit para pemancing

Menuju jalan lintas Gampong Pande dari tugu titik nol Banda Aceh tidaklah terlalu jauh. Hanya selemparan batu. Sebab berdekatan dengan pemukiman penduduk, banyak warung kayu yang dibangun menghadap lautan. Di sinilah para pelintas biasanya mengumpul selain di batu-batu pemecah ombak. Jalannya lumayan sempit dan kecil. Hanya muat dua mobil. Itu pun sudah saling berhimpitan. Sebagian jalan juga rusak karena dihantam air laut. Beberapa di antaranya terdapat lubang yang menganga lebar. Saya pun harus berhati-hati saat melajukan sepeda motor. Jalur yang sempit dan sedikit rusak ini ternyata bukan penghalang bagi warga kota untuk melintas.  Jalur ini tetap ramai dan sibuk. Bahkan, tepian jalan sering dijadikan lokasi favorit para pemancing.

Jalur lintasan Gampong Pande ini terbentang jauh hingga ke pelabuhan Ulee Lheue. Jalur ini baru diresmikan sekitar awal 2016. Pembangunannya bertujuan sebagai jalur alternatif kota untuk mengurangi kemacetan yang mulai terasa di Banda Aceh saat ini. Namun, karena jalurnya belum terhubung baik dengan lokasi pinggiran lainnya, jadi jalan ini lebih dimanfaatkan sebagai tempat wisata baru di Banda Aceh.

Pemandangan dari atas jembatan

Pemandangan dari atas jembatan

Memangnya apa yang menarik di jalur ini? Pertanyaan ini juga terbesit saat melintas. Jalan berbatu dan berlubang awalnya sempat membuat saya menggerutu. Namun, lambat laun seiring perjalanan semakin jauh, saya menyadari ada banyak pesona yang mampu memanjakan mata.

Menyusuri jalanan alternatif Gampong Pande, saya merasakan seperti berjalan menembus lautan lepas. Sebab jalur ini berada di tengah-tengah yang diapit oleh permukaan air laut, hulu sungai, dan tambak warga. Sepintas jalan ini seperti jembatan panjang membelah lautan. Deburan ombak memecah di tepi-tepi jalan. Hembusan angin berbau garam tercium kuat.

jembatan yang dibangun di tepi pantai Kota Banda Aceh

Jembatan yang dibangun di tepi pantai Kota Banda Aceh

Di ujung jalan terdapat jembatan yang menukik tajam. Di sanalah warga Kota Banda Aceh akan berhenti dan menikmati suasana lebih lepas. Sebab jembatan lebih tinggi, saya bisa melihat pemandangan lebih luas. Dari atas jembatan saya bisa melihat Pulau Sabang dan pulau-pulau kecil lainnya. Selain itu, perpaduan pegunungan dan lautan tenang juga mahakarya yang amat luar biasa. Puluhan pemancing berdiri di bawah jembatan, melempar kail menunggu sergapan ikan. Dari sini juga, saya bisa melihat pelabuhan Ulee Lheue dengan jelas. Beberapa kapal besar berlabuh menunggu penumpang yang ingin menyeberang ke Pulau Sabang.

pemandangan yang terlihat dari atas jembatan

Pemandangan yang terlihat dari atas jembatan

 

Sudah siap jalan-jalan ke Aceh? Ayo booking hotel dan tiket pesawat murah. Eits, ada diskon buat visa online juga nih!

 

Konon katanya, keindahan ini lebih terasa saat menjelang senja. Jembatan ini menjadi pusat keramaian saat menunggu matahari terbenam. Dari atas jembatan, siapapun bisa melihat jelas saat matahari terbenam di balik perbukitan dengan cahaya memantul di atas permukaan air laut. Melihat segala keindahan ini, saya menyadari kenapa tempat ini menjadi destinasi baru di Kota Banda Aceh. Tapi ingat, kearifan lokal masih kuat dipegang di kawasan ini. Setidaknya, itu yang saya lihat saat melintas di pintu masuk. Sebuah papan pengumuman tertancap dengan portal melintang. Pengumumannya, jalan ini dilarang melintas di atas pukul 18.30 atau saat maghrib tiba. Jadi, bagi Ezytravelers yang ingin berkunjung kemari, patuhi peraturan dan usahakan berkunjung sebelum portal ditutup.



About

Hobi menulis. Tukang koleksi buku. Penulis serial “Teller Sampai Teler” (Elexmedia 2014). Follow twitter @ferhatmuchtar
email; ferhattferhat@gmail.com
Baca tulisan lainnya di www.ferhatt.com (kunjungi yaa)


'Serunya Melintasi Jalan Tengah Laut di Kota Banda Aceh' have 4 comments

  1. December 28, 2016 @ 10:04 am SOFIAN

    mntap x bro…. mmg kawasan itu seru banget…. kebetulan saya libur semester bersama anak2 kekawasan itu. sebelum bertolak ke Sabang…. yg cocok jalan tengah laut itu nyambung ke Pulau sabang ya broo…. oke… ya Brooo… salam kenal dari saya di Aceh Tamiang….

    Reply

  2. December 29, 2016 @ 1:41 pm Asep

    mengingatkan memory kembali…sdh 21 tahun belum menginjakkan kaki kembali di bumi Serambi Mekkah, pdahal 14 tahun hidup disana, thanks bro…

    Reply

    • January 23, 2017 @ 12:01 pm Ferhat Muchtar

      Wah, yuk wisata ke Banda Aceh lagi. Banyak yang berubah di sini

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool