Tengoklah Pulau Bunta Jika ke Aceh

Langit cerah. Amat cerah malahan. Padahal jam masih menunjukkan pukul 9 pagi, tapi matahari seperti sudah berada di atas kepala. Tak ada tempat berlindung selain jilbab atau topi yang menutupi kepala kami. Yang tak pakai jilbab dan topi, menggunakan apa saja untuk menghindari teriknya sengatan matahari: tangan, baju, bahkan bayangan kawan sendiri. Saya sendiri pasrah terbakar matahari, terpicing-picing mata karena silau.

Boat bermuatan enam orang penumpang dan satu orang nakhoda melaju membelah mulut kuala. Suara tek-tek-tek-tek-tek dari mesin boat memekakkan telinga pada 10 menit pertama kami menaikinya. Lebih dari itu, telinga beradaptasi. Namun tetap saja kami harus berteriak jika ingin bercakap-cakap. Tak banyak obrolan selama dalam perjalanan itu. Pemandangan dari lautan ke arah daratan telah membungkam semua pertanyaan yang muncul di benak kami masing-masing.

Membelah laut menuju Pulau Bunta.

Membelah laut menuju Pulau Bunta.

Saya, dan lima teman yang lain, terdiri dari dua perempuan dan tiga laki-laki telah merencanakan perjalanan ke Pulau Bunta sejak jauh hari. Segala persiapan telah diatur, mulai dari perlengkapan berkemah, logistik, hingga perizinan diurus ke Geuchik Gampong Pulau Bunta. Pada 2014, perempuan masih diizinkan berkunjung dan menginap di Pulau Bunta. Sejak diawasi oleh Dinas Syariat Islam, perempuan tak mendapat izin lagi mengunjungi pulau indah ini.

Kami melintas di depan Pulau Tuan yang mungil. Lalu melewati para pemancing yang khusyuk menanti umpan kail mereka dilahap ikan merah mata dari atas bebatuan Ujong Pancu. Di sisi kiri, Pulau Batu dan Pulau Rusa berbaris seolah mengantarkan kami menuju Pulau Bunta yang tampak semakin dekat.

Selamat datang di Pulo Bunta :)

Selamat datang di Pulo Bunta 🙂

Pulau Bunta tak begitu besar ukurannya. Pantai berpasir putihnya hanya satu. Memanjang menghadap ke arah timur. Dari pantai ini kita bisa melihat Pantai Lhok Keutapang. Pada sisi selain pantai berpasir, pulau ini dikeliling tebing-tebing batu dan hutan yang lebat. Binatang yang sering kami jumpai adalah kera dan babi. Sebatang pohon Ketapang berdiri kokoh di tepi pantai pasir putihnya. Di situlah kami mendirikan dua buah kemah untuk bermalam.

Mengaso sebentar di bawah pohon ketapang sebelum mendirikan tenda.

Mengaso sebentar di bawah pohon ketapang sebelum mendirikan tenda.

Menyusuri pantai dan tebing pulau adalah salah satu kegiatan paling seru untuk dilakukan di Bunta. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 2 jam menyusuri pantai berpasir lalu berbatu. Perjalanan berhenti di Ujong Bili, sisi terluar Pulau Bunta. Sebuah menara suar berdiri menantang angin di puncak bukit yang tertutup rumput. Ujong Bili adalah tujuan utama tracking tadi. Panorama dari atas Ujong Bili ini luar biasa memukau. Apalagi jika dinikmati dari atas menara suar. Rasa-rasanya tak ingin turun jika sudah sampai di atas.

Pulau Bunta juga memiliki panorama alam bawah laut yang juga menarik untuk disaksikan. Sayangnya arus di kawasan berterumbu karang terlalu kuat pada saat air pasang. Pun pada saat surut tak mungkin kita bersnorkeling ria karena terumbu karang mencuat ke atas permukaan air. Tapi bagi yang tak suka basah-basahan malah senang karena bisa melihat terumbu karang cukup dari pantai saja.

Daripada diseret arus, mending snorkelingnya dari atas pantai saja. :D

Daripada diseret arus, mending snorkelingnya dari atas pantai saja. 😀

Tak ada yang membuka kios atau pun warung di pulau ini. Makanya kami membawa sendiri bahan makanan dari Banda Aceh untuk dimasak. Tentu peralatan memasak juga sudah disiapkan berupa kompor gas portable, panci, kuali, cangkir, dan sendok. Makanan mewah untuk malam hari sudah kami siapkan: ayam ungkep untuk dipanggang beserta sambal kecap dengan irisan cabai rawit dan tomat. Hmm… yummy!

Panorama Ujong Bili dari atas menara suar.

Panorama Ujong Bili dari atas menara suar.

Pulau Bunta yang berwaktu tempuh tak sampai dua jam perjalanan ternyata adalah tempat yang paling oke untuk melarikan diri sejenak dari hiruk pikuk kota. Sunyi dan tenang. Hanya deburan ombak dan desau angin di antara dedaunan dan ranting yang terdengar. Paket wisata menuju pulau ini pun terbilang murah. Agen-agen perjalanan lokal pun bertebaran dengan menjual paket yang menarik dan murah. Untuk menginap saja cukup dengan bujet 400k saja atau jika ingin PP cukup rogoh kocek 350k per orangnya. Ayo, kapan lagi ke Pulau Bunta?



About

Traveler cilet-cilet aka traveler abal-abal ini sangat menyukai berkemah di pantai dan bukit. Penggemar ifu mie dan teh dingin. Berumah di hananan.com


'Tengoklah Pulau Bunta Jika ke Aceh' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool