Museum Tsunami Aceh

Ternyata Begini Filosofi Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh Telah Menjadi Icon Pariwisata Baru di Banda Aceh

Siapa yang tak mengenal Museum Tsunami Aceh? Bangunan megah rancangan Ridwan Kamil ini telah menjadi icon pariwisata baru di kota Banda Aceh. Di lihat dari sisi manapun, museum tsunami Aceh memang selalu menarik. Wajar saja, dana yang dikucurkan untuk museum iconic ini pun tidak sedikit yaitu Rp. 70 milyar.

Museum Tsunami Aceh sengaja dibangun untuk mengenang betapa dahsyatnya musibah tsunami yang melanda Aceh pada 2004 silam. Selain itu, museum ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi sekaligus pusat evakuasi jika sewaktu-waktu bencana tsunami datang kembali.

Oleh sebab itu, Museum Tsunami Aceh tidak sekadar berdiri. Setiap bentuknya memiliki filosofi yang mendalam. Setiap sisi ruangannya mengandung pesan yang layak kita renungi.  Nah, berikut filosofi Museum Tsunami Aceh yang patut Ezytravelers ketahui:

Jangan lewatkan tulisan ini: Lima Fakta Unik Warung Kopi di Aceh

Lorong Tsunami (Space of Fear) yang Selalu Bikin Merinding

Museum Tsunami Aceh

Lorong gelap yang bikin merinding

Lorong ini adalah bagian pertama yang kita temui saat masuk museum tsunami. Jujur saja, setiap kali saya masuk Museum Tsunami Aceh dan melewati Space of Fear, saya selalu merinding. Di sini kita akan melewati sebuah lorong gelap nan sempit sepanjang 30 meter. Lalu tingginya mencapai 19 – 23 meter. Ukuran ruangan tersebut ternyata punya maksud, yaitu mengambarkan gelombang tsunami Aceh 2004 silam.

Lalu, saat Ezytravelers menelusuri lorong gelap ini akan mendengar suara gemericik air yang jatuh. Kita juga akan merasakan percikan-percikan air yang jatuh dari ke dua sisi lorong. Hal ini, sengaja dibuat untuk mendiskripsikan perasaan takut masyarakat Aceh saat tsunami. Karena itulah namanya space of fear.

Terdiam di Ruang Kenangan (Space of Memory)

Museum Tsunami Aceh

Di ruang kenangan kita serasa berada di dalam laut

Setelah keluar dari Space of Fear, Ezytravelers akan memasuk ruangan kenangan (Space of Memory). Di sini, kita akan menyaksikan 40 gambar tsunami Aceh yang ditampilkan dalam 26 monitor. Suasana ruangan ini juga terasa begitu hening apalagi cahaya ruangan yang temaram. Maka setiap gambar yang ditampilkan, mampu membuat kita terdiam. Ruangan ini memang dimaksudkan untuk mengingatkan kembali kenangan tsunami. Secara tak langsung, kita diajak untuk tidak pernah melupakan peristiwa dahsyat tersebut.

Sementara dinding Ruangan Kenangan ini terbuat dari kaca, yang maknanya adalah keberadaan di dalam laut. Selain itu, 40 monitor di sini berbentuk persegi panjang, tak ubahnya batu-batu yang ada di dasar laut. Maka memasuki ruangan ini, kita seolah-olah sedang berada dalam pusaran gelombang laut.

Merasa kerdil di Ruang Sumur Doa (Space of Sorrow)

Museum Tsunami Aceh

Ribuan nama korban tsunami di Sumur Doa

Ruangan selanjutnya yang bisa bikin Ezytravelers tak berdaya adalah Ruang Sumur Doa. Di sini, kita merasakan betapa kerdilanya diri ini di hadapan Tuhan. Space of Sorrow berbentuk silinder dengan ketinggian 30 meter. Di setiap sisi ruangan ini tertulis 2.000 nama korban tsunami Aceh, lalu nama-nama tersebut seolah menuju satu nama di ujungnya  yang juga menjadi sumber cahaya yaitu Allah.

Di sini, pengunjung diajak untuk merenungi satu pesan penting, yaitu suatu saat nanti kita semua akan kembali menuju Allah Yang Maha Kuasa. Sebuah kesadaran yang semestinya harus selalu kita renungkan.

Jalan Pencarian Itu Bernama Lorong Cerobong (Space of Confuse)

Museum Tsunami Aceh

Berjalan menuju cahaya

Setelah melewati ruangan yang minim cahaya, maka di Lorong Cerobong kita akhirnya bisa melihat semuanya lebih jelas. Karena di sini ini kita baru menemukan cahaya matahari. Kita akan berjalan kaki dengan lantai yang melingkar namun terus menanjak ke atas. Lantainya juga tak rata, yang mengisyaratkan perasaan kebingunan masyarakat Aceh saat tsunami. Bingung karena kehilangan keluarga, ataupun harta benda.

Lantai yang terus berkelok juga mengisyaratkan langkah yang tanpa tujuan. Namun saat itu kita dituntut untuk terus mencari jalan keluar. Inilah alasan bagian ini disebut Space of Confuse. Sementara jalan yang terus menanjak adalah lambang sebuah harapan. Karena sebelumnya, kita berada di ruangan yang minim cahaya menuju tempat yang terang menderang.

Terperangkap Pesona di Jembatan Harapan (Space of Hope)

Museum Tsunami Aceh

Pesan damai yang menggantung di langit-langit Jembatan Harapan

Keluar dari Lorong Cerobong, selanjutnya pengunjung akan melewati Jembatan Harapan. Kontruksi jembatan ini sangat menarik. Selama meniti jembatan pengunjung bisa melihat 54 bendera dari 54 negara yang tergantung di langit-langit gedung. 54 negara tersebut adalah negara yang turut membantu Aceh saat tsunami. Di setiap bendera tertulis kata “damai” dengan bahasa negara tersebut, sebagai refleksi pesan damai untuk Aceh yang sebelum tsunami diselimuti konflik berkepanjangan.

Seperti namanya, jembatan ini sengaja dibuat untuk membawa pesan bahwa Aceh tidak sendiri. Harapan untuk bangkit itu selalu ada. Karena bencana tsunami telah membuka mata dunia untuk turut bersama-sama membantu Aceh bangkit kembali.

Inilah filosofi di balik setiap ruangan yang ada di Museum Tsunami Aceh. Maka, ketika masuk museum ini, Ezytravelers akan menemukan sensasi yang berbeda. Sebuah perasaan yang mungkin belum pernah Ezytravelers rasakan sebelumnya.

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: Tiket ke Aceh, dan Paket Wisata


About

Anak Kampung yang rentan bahaya globalisasi | Suka jalan-jalan dan naik gunung | Penyuka film berbau Spionase | Fans setia Arsenal | www.ibnusyahri.com


'Ternyata Begini Filosofi Museum Tsunami Aceh' have 2 comments

  1. December 21, 2016 @ 2:27 am Maya

    Salam pak..
    Masih ada lagi pak filosofi2 yg ada di museum tsunami. Misalnya, dindingnya yg menyerupai susunan tangan2 penari dlm tari saman atau bentuk keseluruhan museumnya itu sendiri yg menyerupai kapal.
    Tambahin lg pak Ibnu narasi nya..
    ???

    Reply

    • December 28, 2016 @ 9:30 am Ibnu Syahri Ramadhan

      Salam, Oh iya
      Tapi tulisan ini saya memang khusus bahas ruangan di Museum Tsunami Aceh saja 😀
      Terima kasih… 😀

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloAcehku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool